Populer Danantara Lepas Lebih dari 100 BUMN IHSG Anjlok 1,88 Persen

Populer Danantara Lepas Lebih dari 100 BUMN IHSG Anjlok 1,88 Persen

M-Radar News – Danantara Indonesia mengumumkan rencana pelepasan lebih dari 100 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada pihak swasta sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas aset negara. Langkah ini diambil agar BUMN dapat lebih fokus pada bisnis inti dan kompetensi utamanya.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa pengelolaan BUMN ke depan tidak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Danantara, tetapi juga akan melibatkan kerja sama yang lebih intensif dengan sektor swasta. Model Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi salah satu strategi untuk mengeksekusi proyek, termasuk dalam pengembangan infrastruktur.

Baca juga:

Dony menegaskan bahwa BUMN tidak akan mengambil porsi lebih besar dari peran swasta di sektor-sektor seperti perhotelan yang sudah banyak dikelola oleh pelaku usaha swasta. Lebih dari 100 BUMN non-core telah didivestasikan ke pihak swasta agar konsentrasi BUMN dapat diarahkan pada bisnis utama yang memberikan kontribusi tinggi.

Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa program penyederhanaan entitas BUMN melalui streamlining dan merger telah mencapai 354 entitas. Sebagian besar aset yang ditutup berstatus dormant, yakni masih ada namun tidak beroperasi. Contohnya, enam BUMN manajemen aset telah digabung secara horizontal, begitu juga dengan penggabungan 137 hotel dan 75 rumah sakit pelat merah menjadi beberapa perusahaan tunggal. Langkah ini diambil karena banyak perusahaan tersebut terus mengalami kerugian.

Dari total 1.074 BUMN yang ada, hanya 15 perusahaan yang memberikan kontribusi dividen sebesar 97 persen untuk kas negara, menandakan pentingnya fokus pada penguatan bisnis inti BUMN.

IHSG Mengalami Penurunan Signifikan

Di sisi pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, ditutup melemah sebesar 1,88 persen atau turun 115,44 poin ke level 6.031,28. Pelemahan ini juga tercermin pada indeks LQ45 yang turun 1,99 persen ke posisi 593,64.

Nilai transaksi perdagangan pada hari tersebut mencapai Rp 12,50 triliun dengan volume 60,28 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,94 juta kali.

Beberapa saham mengalami kenaikan signifikan, seperti ARII (Atlas Resources) yang naik 24,86 persen dan PEVE (Penta Valent) naik 24,85 persen. Namun, saham yang mengalami penurunan terbesar dipimpin oleh SEMA (Semacom Integrated) turun 14,67 persen dan TRIN (Perintis Triniti Properti) turun 14,39 persen.

Baca juga:

Dari sisi nilai transaksi, FORU (Fortune Indonesia) mencatat transaksi tertinggi senilai Rp 865,41 miliar, diikuti oleh GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) senilai Rp 746,82 miliar. GOTO juga memimpin dari sisi volume dengan 253,48 juta lembar saham.

Nilai Tukar Rupiah dan Bursa Saham Asia

Pasar valuta asing mencatat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditutup di posisi Rp 17.914,4, melemah 0,22 persen dibandingkan harga pembukaan pada pagi hari di level Rp 17.875.

Bursa saham Asia pun mengalami penurunan serentak pada hari yang sama. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,13 persen, Hang Seng di Hong Kong turun 1,43 persen, dan SSE Composite di China turun 0,79 persen. Indeks Straits Times di Singapura mencatat penurunan terdalam sebesar 3,39 persen.

Penurunan pasar saham dan pelemahan rupiah ini menjadi konteks penting bagi dinamika ekonomi Indonesia dan global yang perlu terus dipantau oleh pelaku pasar maupun pemangku kebijakan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup