Iran Sebut Kesepakatan Jalur Laut Selat Hormuz dengan Oman Segera Tercapai
M-Radar News – Iran mengumumkan bahwa mereka berada sangat dekat dengan pencapaian kesepakatan bersama Oman terkait jalur transit maritim baru di Selat Hormuz. Namun, pembukaan jalur strategis ini masih bergantung pada sejumlah persyaratan ketat yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS).
Negosiasi Menuju Kesepakatan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa para negosiator dari kedua negara semakin mendekati titik temu mengenai koridor transit maritim sementara untuk kapal-kapal yang keluar-masuk Teluk Persia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan langsung membuka Selat Hormuz secara penuh, sehingga kelonggaran pasokan energi global kemungkinan masih terbatas.
Araghchi menambahkan bahwa pembukaan selat ini bergantung pada pemenuhan beberapa kondisi, termasuk kompensasi atas pelanggaran AS terhadap Perjanjian Islamabad yang sebelumnya telah runtuh akibat perbedaan pandangan mengenai tata kelola Selat Hormuz.
Syarat Iran untuk Pembukaan Selat Hormuz
Iran mengajukan sejumlah tuntutan keras kepada AS yang meliputi:
- Pencabutan blokade laut di sekitar kawasan Iran.
- Penarikan pasukan militer AS dari area sekitar Iran.
- Penghapusan sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Iran.
- Pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan tanpa syarat.
Tuntutan ini juga dikonfirmasi oleh Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras dan pemimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Respons dan Sikap Oman serta AS
Oman menyatakan bahwa proses negosiasi berjalan dalam suasana positif dan konstruktif, serta menyerukan penghentian aksi militer di Selat Hormuz agar tidak mengganggu upaya diplomatik pemulihan jalur pelayaran.
Sementara itu, Washington belum memberikan respons pasti terhadap rancangan kesepakatan tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menegaskan pentingnya pemulihan pelayaran bebas di Selat Hormuz dan mengancam akan melakukan aksi militer jika Iran menolak membuka jalur tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance mengakui adanya kemajuan dalam perundingan, namun menyatakan hasil akhirnya belum tentu memenuhi semua kepentingan AS. Vance juga menekankan perlunya pembersihan ranjau laut yang ditebar Iran dan jaminan keamanan bagi kapal-kapal komersial yang melintas.
Risiko Keamanan yang Masih Membayangi
Di tengah negosiasi yang masih berlangsung, risiko keamanan di lapangan tetap tinggi. Baru-baru ini, sebuah kapal milik Abu Dhabi National Oil Co. kembali menjadi sasaran rudal saat melintasi Selat Hormuz. Insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun menunjukkan ketegangan yang masih terjadi di kawasan tersebut.
Jumlah serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz meningkat, menimbulkan ketidakpastian bagi para investor dan pelaku industri minyak. Direktur senior strategi investasi US Bank Wealth Management, Rob Haworth, menyebut bahwa kesepakatan jangka panjang masih sulit dicapai dan volume lalu lintas kapal masih rendah.
Peran Washington dalam Negosiasi
Washington mengklaim terlibat dalam proses negosiasi tata kelola Selat Hormuz, meskipun klaim ini sempat dibantah oleh pihak Teheran. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa pencabutan blokade maritim baru akan dilakukan setelah adanya kesepakatan formal antara Oman dan Iran mengenai pemulihan pelayaran niaga resmi.
Situasi di Selat Hormuz sangat penting karena jalur ini merupakan salah satu pintu utama pengiriman energi dunia. Keamanan dan kelancaran pelayaran di kawasan ini berpengaruh besar terhadap stabilitas pasokan energi global dan kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












