Perdebatan Musik Video Game Buatan AI Semakin Memanas
M-Radar News, Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam musik video game semakin memanas. Banyak penggemar dan komposer yang menolak kehadiran AI dalam proses kreatif, sementara sebagian lain merasa tidak masalah selama permainan tetap menyenangkan.
Salah satu jurnalis dari PC Gamer, dalam kolom Critical Hit, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap maraknya AI generatif di industri game. Menurutnya, AI telah merambah berbagai aspek pengembangan game, mulai dari thumbnail hingga tekstur, dan kini mulai menyentuh musik video game.
“Suka atau benci—dan untuk catatan, saya sangat berada di kubu yang terakhir—AI generatif terus merembes ke setiap aspek pengembangan game,” tulisnya. Ia menyayangkan fenomena di mana “pengembang” memamerkan video game yang seluruhnya dibuat dengan AI seolah-olah itu sesuatu yang patut dirayakan, bukan dilihat dengan horor atas pembongkaran kreativitas dan semangat manusia.
Menurut kolom tersebut, meskipun musik video game sebagian besar masih bertahan dari serbuan AI generatif, bukan berarti tidak ada. YouTube sudah dipenuhi dengan apa yang disebut “rearrangement” dari skor video game terkenal yang ternyata dibuat sepenuhnya oleh model bahasa besar (LLM).
Selain itu, Spotify juga menghadapi kritik tajam karena banjirnya musik AI di platform tersebut. Bahkan, ada dugaan bahwa Spotify sengaja menempatkan musik buatan AI yang dimilikinya di playlist resmi sebagai cara untuk membayar lebih sedikit kepada musisi sungguhan.
Kolom itu juga menanyakan pendapat pembaca: Apakah mengetahui bahwa sebuah game memiliki musik buatan AI akan mengubah opini Anda? Apakah Anda akan menyadarinya? Atau justru tidak masalah, asalkan Anda menikmati permainannya?
Bagi penulis kolom yang telah dibentuk oleh musik video game, mengetahui niat komposer di balik setiap melodi, instrumen, dan lapisan yang mengikuti situasi dalam game adalah hal yang membuatnya begitu mencintai musik tersebut. “Nuansa seperti itu tidak akan Anda dapatkan dari sesuatu yang disusun oleh komputer, yang hanya memindai dan memuntahkan apa pun yang dikumpulkannya dari tempat lain,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa AI generatif pada akhirnya merendahkan suatu produk. Namun, ketika musik adalah sesuatu yang sangat berharga baginya, menyerahkan seni itu kepada sesuatu yang artifisial terasa seperti mimpi buruk terburuknya. Meski demikian, ia mengakui bahwa mungkin ada yang memiliki pandangan berbeda.
Perdebatan ini terus bergulir di kalangan komunitas game dan musik. Sejauh ini, belum ada konsensus mengenai sejauh mana AI boleh digunakan dalam menciptakan musik video game. Namun, satu hal yang pasti: kekhawatiran akan hilangnya sentuhan manusia dalam seni semakin terasa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












