Juru Kunci Akui Rusak Makam Mertua Seniman Djaduk Karena Tidak Pernah Dikasih Duit

Juru Kunci Akui Rusak Makam Mertua Seniman Djaduk Karena Tidak Pernah Dikasih Duit

M-Radar News, Yogyakarta – Seorang juru kunci makam di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Kota Yogyakarta mengakui telah merusak makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto. Tindakan tersebut dilakukan karena juru kunci berinisial S merasa tidak pernah menerima uang dari ahli waris untuk perawatan makam.

S awalnya menolak wawancara, namun kemudian bersedia memberikan penjelasan di Kantor Kelurahan Pakuncen, pada Rabu (12/8/2026). Ia mengaku mengambil kepala nisan sebagai bentuk protes agar ahli waris menemui dirinya. “Untuk biar ketemu. Saya selama ini ibu enggak berusaha menemui saya,” ujar S.

Alasan Tindakan Juru Kunci

S menyampaikan bahwa Petra Ferianto, istri Djaduk Ferianto, kerap berziarah ke makam tersebut, tetapi tidak pernah memberikan uang untuk perawatan. “Ibu ini berkali-kali nyekar tapi tidak pernah ngasih,” ucapnya. Ia menjelaskan tidak mematok besaran uang, namun berharap pemberian secara ikhlas, yang ia sebut dengan prinsip tepa salira.

Juru kunci tersebut juga memiliki dua tenaga kerja yang membersihkan makam setiap pagi dan sore hari. “Tidak ada pengancaman atau pemaksaan, tapi tahu sendiri kalau makam ingin tetap bersih harus ada perhatian,” tambahnya.

Penjelasan Mengenai Komunikasi dan Pungutan

S mengungkapkan bahwa selama ini tidak ada komunikasi yang baik antara dirinya dan ahli waris, sehingga ia meminta agar Petra datang pada waktu yang lebih memungkinkan untuk bertemu. Ia juga membantah telah mengancam Petra. “Saya hanya memberi pengertian bahwa makam yang tidak ditengok selama tiga tahun biasanya akan hilang,” jelas S.

Selain itu, S menyatakan bahwa profesi juru kunci ini merupakan tugas turun-temurun dari kakeknya dan dirinya memiliki hak mengelola makam tersebut berdasarkan petunjuk dari Kelurahan di masa lalu.

Reaksi dan Upaya Mediasi Petra Ferianto

Petra Ferianto mengaku selalu memberikan uang kepada petugas kebersihan saat berziarah, tetapi bingung jika tidak ada petugas yang dapat ditemui. Dalam mediasi, Petra setuju membayar Rp 500 ribu sebagai pembayaran utang atas jasa perawatan makam, Rp 50 ribu untuk perbaikan makam yang dirusak, serta menawarkan uang bulanan Rp 100 ribu.

“Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi dan akan menyesuaikan pembayaran dengan peraturan yang berlaku,” kata Petra.

Kearifan Lokal dan Tanggapan Pemerintah Kelurahan Pakuncen

Lurah Pakuncen, Budhi Riyanto, menyatakan pungutan yang dilakukan juru kunci merupakan kearifan lokal yang sudah berlangsung turun-temurun. Ia menegaskan pengelolaan makam umum di tanah Kasultanan Yogyakarta memang diserahkan kepada para juru kunci.

Budhi menyampaikan pemerintah sedang menunggu peraturan yang lebih rinci untuk menata pengelolaan makam dan pungutan yang berlaku. Ia juga berencana mengumpulkan para juru kunci untuk mengatur tarif secara terstruktur.

Kondisi Terkini Makam

Kondisi makam mertua Djaduk Ferianto kini telah diperbaiki oleh juru kunci. Kepala nisan yang sebelumnya diambil sudah dipasang kembali. Kasus perusakan makam ini juga telah diselesaikan secara damai di kepolisian.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup