Literasi Keuangan RI Naik Jadi 69, OJK Beberkan Tantangannya

Literasi Keuangan RI Naik Jadi 69, OJK Beberkan Tantangannya

M-Radar News – Indeks literasi keuangan nasional Indonesia mengalami kenaikan signifikan pada 2026, mencapai angka 69,57 persen, menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kenaikan ini menunjukkan peningkatan sebesar 2,93 poin persentase dibandingkan tahun 2025 yang berada di level 66,64 persen.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan juga naik menjadi 93,61 persen, meningkat 0,87 poin persentase dari tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia telah menggunakan produk keuangan, meskipun tingkat literasi mereka masih tertinggal. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman dan penggunaan layanan keuangan.

Perbedaan Indeks Literasi dan Inklusi

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa perbedaan angka yang cukup signifikan antara indeks literasi dan inklusi keuangan disebabkan oleh standar pengukuran yang berbeda. Literasi keuangan tidak hanya mengukur pengenalan produk, tetapi juga melibatkan lima aspek penting yaitu pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku finansial secara menyeluruh.

“Orang bisa saja mengetahui produk keuangan, tetapi tanpa keterampilan atau keyakinan yang memadai, maka tidak termasuk dalam kategori terliterasi secara keuangan,” ujar Friderica, yang akrab disapa Kiki, saat rilis hasil SNLIK 2026 di Kantor BPS, Jakarta, Senin (10/8).

Pengukuran ini mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sehingga angka literasi keuangan cenderung lebih konservatif dibandingkan pengukuran inklusi yang cukup dengan memiliki satu rekening saja.

Pengaruh Digitalisasi terhadap Inklusi Keuangan

Kiki menambahkan bahwa tingginya angka inklusi keuangan didorong oleh kemudahan akses digital yang semakin masif. Proses pembukaan rekening secara daring dan pertumbuhan dompet digital memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses layanan keuangan.

“Dengan digitalisasi, masyarakat dapat membuka rekening dan menggunakan layanan keuangan dengan mudah, sehingga inklusi keuangan menjadi sangat tinggi,” ujarnya.

Tantangan di Balik Peningkatan Literasi

Meskipun indeks literasi keuangan menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, OJK mengakui masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Hal ini tercermin dari tingginya volume pengaduan konsumen yang diterima OJK, yang menunjukkan kesenjangan antara pemahaman dan penggunaan produk keuangan.

“Tingginya pengaduan bukan berarti hal buruk, justru menunjukkan masyarakat kini lebih sadar dan tahu ke mana harus mengadu,” jelas Kiki.

Posisi Indonesia dalam Kancah Internasional

Indeks literasi keuangan Indonesia yang mencapai 69,57 persen sudah melampaui rata-rata negara anggota OECD yang berkisar sekitar 63 persen. Pencapaian ini sekaligus telah melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Kondisi ini menunjukkan kemajuan positif dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan, sekaligus menegaskan pentingnya peningkatan literasi sebagai kunci pengelolaan keuangan yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup